Friday, January 29, 2016

Learning from Failure, why not?

SBMPTN ( Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri ) tiap tahun diadakan oleh pemerinah guna menyeleksi peserta didik yang layak menjadi mahasiswa baru suatu universitas / institut. Namun demikian, SBMPTN bukan satu-satunya jalur agar kita bisa menempuh bangku perkuliahan. Pemerintah juga mengadakan SNMPTN ( Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri ) dimana seleksi ini berdasarkan nilai akademis, prestasi siswa dalam bidang akademis maupun non akademis dan juga beberapa kriteria lain seperti indeks sekolah dan alumni. Universitas juga menyediakan seleksi tersendiri seperti SIMAK-UI UTUL-UGM dan beberapa Seleksi mandiri lainnya yang diadakan oleh universitas.


 

Sebelum berbicara mengenai SBMPTN, alangkah baiknya kita berbicara mengenai SNMPTN. Karena, pelaksanaan SNMPTN lebih dahulu dibandingkan pelaksanaan SBMPTN. SNMPTN, katanya di seleksi berdasarkan nilai akademis siswa nilai prestasi siwa, namun tidak menutup kemungkina siswa yang memiliki nilai akademis baik dan prestasi yang membanggakan tidak lolos SNMPTN, sedangkan siswa yang nilai akademis nya biasa saja dan begitu juga prestasinya sedikit bahkan sama sekali tidak ada mereka bisa lolos dalam SNMPTN ( Pengalaman penulis ). Jadi saya menyarankan untuk adik-adik dan teman teman semuanya jangan terlalu mengandalkan pada SNMPTN, karena factor pemilihan mahasiswa barunya saja tidak transparan. Lebih baik kalian mempersiapkan SBMPTN lebih awal.

Mengapa artikel ini bertemakan “ Belajar dari Kegagalan “ Karena saya sendiri sempat merasakan gagal masuk PTN yang saya inginkan. Lewat berbagai jalur masuk PTN saya gagal. Akhirnya saya memutuskan untuk berhenti sebentar satu tahun guna mempersiapkan SBMPTN 2016. Dulu, saya belajar SBMPTN 2015 hanya kurang dari satu bulan. Selama satu bulan saya belajar di salah satu bimbel ternama di Indonesia. Menurut saya pribadi belajar SBM di bimbel kurang efektif karena berbagai alas an. Misalnya terlalu banyak murid. Pendaftar SBMPTN tahun 2015 sendiri hampir 500.000 lebih pendaftar sedangkan kuota yang disediakan hanya sekitar 100.000. bisa dibayangkan jika semua siswa belajar di bimbel. Selain itu, intensif di bimbel dalam kurun waktu sebulan juga bisa dibilang kurang efektif karena hanya membahas soal dan itupun hanya 2 kali pertemuan dalam sehari.

Saya menyarankan untuk adik adik semua lebih baik belajar kelompok, dengan fasilitas yang memadai. Namun, tidak menutup kemungkinan, kalian tidak belajar di bimbel. Bisa saja kalian belajar di bimbel. Itu hak kalian kan untuk belajar dimanapun. Namun, yang saya rasakan dengan belajar sendiri daripada di bimbel telah terasa, saya lebih mahir mengerjakan soal-soal karena saya mengerjakan suatu soal dan mencari solusinya sendiri. Itu berguna untuk melatih otak kita untuk memecahkan suatu masalah.

Saya memanfaatkan e-learning dari Zenius dalam hal belajar untuk mereview materi dan berlatih soal, juga saya menggunakan buku wangsit untuk berlatih soal yang lebih banyak. Banyak manfaat yang telah saya dapatkan.SBMPTN 2016 saya akan belajar dari kegagalan. Selain dalam hal belajar juga dalam hal menentukan pilihan prodi apa yang akan saya ambil nantinya. Setelah saya ikut beberapa tes minat dan bakat saya memang tidak ada bakat sama sekali di teknik. ( Well, tahun 2015 saya mengambil teknik semua ) di tahun 2016 nanti saya akan mengambil Statisika. Apa hanya karena tes tes itu saya memilih ini? Tidak. Di tes tersebut saya lebih disarankan mengambil Ilmu Kesehatan ( PD PDG Farmasi FKM ) tapi apa daya saya lemah di dalam pelajaran biologi. Dan yes, I love math so much. So, I chose Statistic to be my next major. Keluarga saya juga ada yang berasal dari lulusan Statistika. Setidaknya kalau ada yang tidak bisa saya bisa Tanya lah ehhehee…

so, the Moral value:
  1. Figure out what your TRULY passion is.
  2. I once got this beautiful quote from my friend’s Friend (Cinthya, HI UGM).
“To the ones who still believe in dreams:
Chase them. Chase them until you’re out of breath. Then, keep running.”

No comments:

Post a Comment